Hati

Inilah suara melodi hatiku.. Yang kan selalu terbang ke langit yang tinggi.. Dan menjejakkan kaki di padang rumput yang luas..

Saturday, February 25, 2006

Release!


Di dalam agama ada konsep Taubat. Taubat adalah suatu kondisi kejiwaan di mana seorang memahami bahwa dia melakukan kesalahan, menyadarinya, menyesalinya, dan bertekad untuk berubah dan tidak mengulanginya.

Selama ini saya mencoba mempelajari dalam berbagai macam literatur, seperti apa taubat itu sebenarnya; konsepnya, metodenya dan caranya. Banyak penjelasan-penjelasan yang saya dapat, tapi sepertinya masih terlalu mengambang, atau mungkin tidak cocok dengan karakter diri saya yang lebih cenderung bergerak dengan landasan ilmiah baik secara konsep, metodologis, atau implementasinya.

Nah, baru-baru ini saya mendapat pelatihan tentang konsep Release Diri. Ketika pertama kali diajarkan tentang metode Release ini, saya langsung teringat film The Matrix Reload. Bagaimana Neo berubah menjadi The One. Bagaimana Agent Smith bisa menjadi virus bebas di dunia Matrix. Bagaimana The MAtrix selalu berubah menjadi release terbaru, dengan datangnya The One dalam setiap release sebelumnya. Film ini benar2 mengambil filosofi agama dan kenabian. Bahwa The One adalah seorang nabi/messiah yang bisa membawa perubahan bagi dunia..

Kembali ke masalah Release, metode ini ternyata digali dari ilmu psikologi manusia. Sama halnya dengan ilmu hipnotis. Dasar-dasar pemikiran dalam konsep Release ini antara lain:

- manusia adalah makhluk yang unik, yang diberi anugerah freedom of choice, kebebasan untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri.

- manusia terdiri dari unsur ruh, jiwa, jasad, dan pikiran

- dalam kehidupan sehari2, jiwa dan pikiran seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dan informasi di sekitarnya.

Konsep Release ini benar2 dibentuk dari dasar-dasar psikologi. Dan konsep utamanya ialah dengan menggunakan teknik Sugesti.

Tahukah anda, bahwa apa yang anda pikirkan/imajinasikan itulah yang bakal menjadi kenyataan sesungguhnya di dunia? Di dalam Islam dijelaskan bahwa Allah berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkan/dibayangkan hambaNya. Inilah salah satu akar pemahaman dari freedom of choice itu. Jadi mau seperti apa kita, itu semua tergantung dari apa yang kita pikirkan, kita pilih dan kita niatkan. Just simple!

Nah mengenai Release, ini semua tergantung dari kehendak kita sendiri. Kita mau tidak me-
release diri kita? Sama seperti halnya bila kamar kita sedang berserak (kacau), pilihannya ada pada diri kita, ingin me-release kamar kita sehingga berubah menjadi rapi, atau membiarkannya tetap berserak?

Jadi tahap awal dari metode Release ini ialah bagaimana kita menjadikan diri kita menjadi pemimpin dari diri kita sendiri. Coba ambil kendari diri kita oleh kita sendiri. Salah satu tekniknya coba sering2 ngobrol dengan diri sendiri di depan cermin. Ceramahin diri anda, omelin, marahin, nasihatin, seperti hanlnya anda sedang berkomunikasi dengan bawahan Anda.
Cobalah jadi pemimpin bagi diri Anda sendiri.

Setelah Anda bisa mengambil jarak dan menjadi pemimpin bagi diri Anda sendiri. Sekarang baru masuk ke tahap release.

Inti dari release ini adalah bagaimana kita mensugesti diri kita sendiri, atau menghipnotis diri, atau memprogram ulang diri kita. Tekniknya mengambil dasar ilmu sugesti dan hipnotis. Bagi Anda yang pernah menonton reality show tentang hipnotis, kita pasti heran, kenapa seseorang bisa dikendalikan oleh orang lain. Nah metode release ialah bagaimana kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa memimpin diri kita. Kita adalah pemimpin bagi diri kita.
Gambaran ringkasnya, dengan teknik ini kita mencoba untuk memprogram ulang (release) diri kita menjadi diri yang kita harapkan. Misalnya, bila selama ini ada sifat atau karakter buruk pada diri kita, coba kita release kemabli agar karakter buruk itu hilang, dengan cara mensugesti atau menghipnotis diri kita sendiri. Ada beberapa tekniknya, bisa dengan teknik sugesti balon gas, atau sugesti membakar kertas.

Dan secara psikologi, jiwa manusia memang bisa diubah dan dikendalikan. Ibaratnya sebuah tanah liat yang yang siap dibentuk oleh seorang seniman menjadi keramik yang sangat indah. Begitu juga dengan teknik release ini. Bayangkan anda adalah seniman itu, anda adalah pemimpin bagi diri anda, dan jiwa anda (alam bawah sadar anda) adalah tanah liat yang siap untuk anda bentuk dan ubah (release)

Hal-hal di atas adalah gambaran umumnya. Ada teknik2 khusus (SOP) nya yang harud dilakukan untuk melakukan Release Diri ini. Seperti harus diawali dengan stretching, deep breathing, dll.

Intinya, bahwa konsep Release ini adalah salah satu metode ilmiah Taubat yang selam ini coba saya cari2. Inilah metode ilmiahnya, yang digali dari ilmu psikologi dan kejiwaan manusia. Sejarah pernah menceritakan bagaimana orang bisa berubah, dengan datangnya hidayah. Seperti berubahnya Umar Bin Khattab, berubahnya Khalid Bin Walid, Sidharta Gautama, Umar Bin Abdul Aziz, Yusuf Islam, dll. Secara ilmiah, perubahan itu terjadi dalam jiwa alam sadar mereka,m bermula dari pikiran, kemudian pikiran mensugesti alam bawah sadar, dan turun ke hati (qolbu). Inilah yang namanya hidayah. Saya sampai saat ini sangat yakin bahwa ilmu Allah itu semua bisa diilmiahkan, terutama tentang hidayah ini.

Nah melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi. Bahwa teknik Release ini adalah salah satu teknik alternatif bagi kita yang ingin merubah dan memperbaiki diri, bertaubat. Coba Release diri kita menjadi pribadi yang kita inginkan, pribadi yang lebih baik, tenang, shalih, berguna dan mencintai umat manusia, serta taat dan bertakwa kepada Sang Pencipta.

Bagi yang tertarik, bisa menghubungi saya via email: haldi_kudo@yahoo.com. Karena teknik2 mendetailnya tidak bisa saya tuliskan di sini. Karena terlalu banyak dan takut bias&terdistrosi kalo hanya melalui tulisan. Harus disampaikan dan diajarkan secara langsung.

Semoga metode ini berguna bagi diri kita yang terpanggil untuk merubah dan memperbaiki diri.

Let's change! Release ourself!

Wallahu Alam..

Thursday, February 23, 2006

Karena Cinta

“.. for people who like helping people..”

Karena Cinta

“Karena Cinta”, istilah ini pertama kali terkenal ketika dinyanyikan oleh Joy di Indonesian Idol. Terlepas dari konotasinya yang agak “merah jambu”, aku ingin memandangnya dari sisi lain..


Dear Haldi.. my soul..

Beberapa lama ini aku mengalami beberapa persoalan yang sangat menyita pikiran dan emosi. Bisa juga dibilang juga masalah. Persoalan ini timbul karena sedikit banyak menguncang eksistensi dan kemapanan sikap dan pemahaman yang sudah kuyakini selama ini. Tapi itulah namanya kehidupan, setiap orang memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda, sehingga berbeda pula sikap dan paradigmanya..

Untuk beberapa lama aku sempat tidak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Pikiranku seakan tidak bisa memahaminya, bahkan kamu sendiri juga begitu, jiwaku.. Semakin mencoba untuk memahami, semakin jauh rasanya diri ini dari orang lain.

Tapi sekarang aku ingin mencoba metode jurus “tubuh halus”nya shiro, mencoba membaca energi orang lain, mengenalnya, memahaminya, sehingga bisa mengendalikannya dan mengalahkannya. Sebuah jurus yang secara batas kewajaran “ilmu kung fu” tidak akan mampu dikalahkan, kecuali oleh orang-orang yang sudah mampu melepaskan ketergantungan jiwanya dari jasadnya, dari materi dunia. Orang2 yang juga mempunyai kendali yang tinggi terhadap energi diri jiwanya.. yang sudah tidak takut kehilangan jasadnya.. tidak takut mati..
Kalo bahasa ilmu ESQ nya : empati



Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, begitu kata guruku ketika SD, SMP, dan SMA dulu. Makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Ketika itu (dan sampai kini) aku mencoba memahaminya dari sudur pandang lain: bahwa manusia membutuhkan manusia/pihak lain untuk hidup, untuk mengisi energi jiwanya.

Dan beberapa hari belakangan ini.. aku menemukan persoalan yang berhubungan dengan manusia itu semuanya. Bila coba disederhanakan dan disimpulkan, seluruh persoalan itu terkait dengan suatu keadaan ketika seorang manusia diharapkan bisa berbagi dengan manusia lain, atau pihak lain. Dan aku menghadapi banyak penyikapan reaktif terhadap itu semua

… Beberapa orang bertanya dalam dirinya..
kenapa aku harus berbagi?
kenapa aku harus memberi?
kenapa aku harus percaya?
kenapa aku harus menerima?
kenapa aku harus berbuat?
kenapa aku harus membantu?
kenapa aku harus menolong?
kenapa aku harus susah?
kenapa aku harus kehilangan?
kenapa aku harus berkorban?

Kira-kira itulah pertanyaan-pertanyaan, yang coba kubaca, yang timbul dari manusia-manusia di sekelilingku..
Aku coba merenunginya kembali.. mencoba memahami dan merasakannya.. mencoba menemukan jawabannya..

Tetapi ketika kucoba menemukannya dengan akal pikiran di otakku, rasanya semakin sakit saja rasanya kepala ini. Mungkin ukuran pertanyaan-pertanyaan itu terlalu besar dengan kapasitas memory & processor otakku.. Sehingga membuatnya nge-hang, karena sudah kehabisan ruang. Bit-bit pertanyaan itu seakan sudah tidak dapat tertampung lagi, sehingga sulit untuk mengolahnya..

Ketika kepala ini semakin sakit
kucoba mengalihkannya ke hati.. tempat bersarangnya jiwaku, ya kamu Haldi..
Aku tidak mau lagi mengolahnya dengan Arithmatic Logic Unit di otakku
Karena memang pertanyaan itu di luar nalar bila coba kucoba menjawabnya dengan otak

Dan mulailah aku mencoba menemukannya dengan hati..

Suatu ketika aku membaca sebuah email dari milis angkatanku
yang berisi pendapat cendikiawan-cendikiawan barat tentang Muhammad
Sebuah email yang dibuat untuk membungkam kartunis-kartunis barat yang bodoh dan dengki itu..
Berikut beberapa kutipan pendapat dari cendikiawan-cendikiawan dunia tersebut tentang Muhammad:

"Sejumlah besar sumber awal menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang jujur dan berbudi baik yang dihormati dan ditaati orang-orang yang sepertinya (jujur dan berbudi baik) (Vol. 12)"
ENCYCLOPEDIA BRITANNICA


Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia... Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.
MAHATMA GANDHI (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA)

Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri. Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa... Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?"
MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS INHISTORY, New York, 1978)

Itulah pendapat-pendapat tentang Muhammad. Aku mencoba meresapinya.. Apa sebenarnya kekuatan inti dan kebesaran seorang Muhammad?

Setelah itu aku mencoba menyelami pribadi manusia-manusia lain.. ada tokoh, pemimpin, pahlawan, bahkan teman-teman yang kukagumi..
Ada juga beberapa tokoh dan pahlawan fiktif yang selama ini cukup kukagumi..
Apa kira-kira yang menggerakkan kehidupan mereka?
Apa yang menyebabkan mereka memiliki energi yang begitu melimpah? ..dan begitu murni..?

Dan sesaat kemudian terlintas dalam benakku potongan-potongan memori masa kecilku
Kehidupanku dengan ayah ibuku, bibiku, pamanku, kakek nenekku.. beberapa dari mereka sudah meninggal sekarang..

Aku mencoba menemukan kesamaan dari mereka semua..

Dan ketika tanpa sengaja mendengar lagu ini, akhirnya aku menemukan jawabannya: Karena Cinta…

Yah.. itulah jawabannya wahai jiwaku..
Itulah jawaban pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalamu itu
Dan yang tidak bisa kau pecahkan dengan otakmu
Coba tanya ke hatimu..

Jawabannya memang hanya Karena Cinta..

Kepada sahabat-sahabatku yang sedang berada dalam kegamangan
Kepada teman-temanku yang sedang berada dalam keraguan
Kepada mereka yang sedang bertanya-tanya:
kenapa aku harus berbagi?
kenapa aku harus memberi?
kenapa aku harus percaya?
kenapa aku harus menerima?
kenapa aku harus berbuat?
kenapa aku harus membantu?
kenapa aku harus menolong?
kenapa aku harus susah?
kenapa aku harus kehilangan?
kenapa aku harus berkorban?

Aku hanya bisa memberi jawaban: Karena Cinta

Bagiku hanya Karena Cinta pertanyaan-pertanyaan itu bisa kujawab
Tak peduli apapun, siapapu, bagaimanapun.. hanya Karena Cinta..
Karena cintaku yang sebesar-besarnya kepada Tuhanku dan nabiku
Karena cintaku kepada agamaku
Karena cintaku kepada ayah ibukuku
Karena cintaku kepada bangsaku
Karena cintaku kepada tanah airku
Karena cintaku kepada rakyatku
Karena cintaku kepada saudara-saudaraku
Karena cintaku kepada sahabat-sahabatku
Karena cintaku kepada teman-temanku

Dan karena inginnya kumelihat senyum kebahagiaan mereka semua..

Karena itulah aku mau berbagi
aku mau memberi
aku mau percaya
aku mau menerima
aku mau berbuat
aku mau membantu
aku mau menolong
aku mau susah
aku mau kehilangan
aku mau berkorban

hanya karena cinta
hanya karena ingin melihat dan menerima senyum kebahagaiaan dan kerihoan mereka

kalau sudah hanya karena cinta
apalagi di dunia ini yang dapat menggantkannya.. ?

Dan hanya cintalah yang bisa mengobarkan energi yang begitu dahsyat, murni, dan tulus..
Tiada lagi yang bisa..

Dan bila suatu saat nanti aku ditanya, atau juga ketika diriku bertanya, “kenapa aku melakukannya?”
Aku hanya akan menjawab: karena cinta.. untuk Tuhanku, nabiku, agamaku, orang tuaku, bangsaku, saudaraku, sahabatku, temanku..

Dan itu semua sudah cukup, tidak kurang, tidak lebih.. tidak peduli apapun dan bagaimanapun selainnya..
Itulah aku..

Dan kamu.. bagaimana dengan kamu?

my room, thursday, 23 february, 11:30 am..

Al Kisah



Alkisah, pada suatu ketika ada seseorang lelaki tua bijaksana yang tinggal di puncak gunung (tidak kutahu mengapa tetapi memang menjadi lazimnya bahwa seorang lelaki tua yang bijaksana semestinya tinggal di puncak gunung). Setiapkali penduduk kampung mempunyai masalah, mereka akan mendaki gunung dan meminta nasihat orang tua tersebut.
Suatu hari seorang pemuda cukup sukses ukuran waktu itu- memutuskan untuk mendaki gunung dan bertanya kepada orang tua.
“Wahai Bapak yang bijaksana”, tanya pemuda itu, “Apakah yang membuat seseorang itu benar-benar unggul?”
Si orang tua merenung seketika, lalu menjawab, “Apakah kamu benar-benar ingn tahu?” “Ya, ya, “ jawab si pemuda.
“Baiklah,” kata si orang tua, “Aku akan beritahu kamu melalui sebuah cerita.”

“Pada suatu masa ada seorang berbangsa Yunani mengidap penyakit yang membawa maut. Karena mengetahui bahwa dirinya tidak lama lagi akan mati, beliau menjadi orang pertama yang menyertai tentara apabila negaranya berperang dengan musuh. Dengan harapan agar mati di medan perang, beliau lalu berjuang, maju di barisan terdepan, tanpa memperhatikan nyawanya. Akhirnya, perang usai dan dimenangkan negaranya, beliau masih juga hidup! Panglimanya begitu kagum dengan keberanian beliau yang telah memberi sumbangan besar terhadap kemenangan mereka, dan memutuskan untuk menaikkan pangkat beliau serta menganugerahkan lencana maupun piagam keberanian dan kehormatan. Di hari penganugerahan, beliau kelihatan murung dan sedih. Karena keheranan, si panglima bertanya kepada beliau, “Apa yang menyebabkan kamu bersedih?” Beliau menjawab, “Aku mengidap penyakit yang mematikan”. Bagaimana Mungkin Dia Membiarkan Seorang Pahlawan Seberani Itu Mati Begitu Saja? Lalu si panglima mencari tabib terbaik untuk mengobati sehingga akhirnya beliau sembuh. Namun demikian, sejak saat itu, si pahlawan yang dahulunya begitu berani tidak lagi berada di barisan depan! Beliau senantiasa menjauhkan dirinya dari bahaya, berusaha melindungi nyawanya dan tidak lagi mempertaruhkannya seperti dahulu!”

“Orang muda, jika kamu ingin benar-benar unggul, kamu hendaknya jangan takut mati, tidak Kia Su (takut kalah), dan berani gagal!”

“Jangan takut hidupmu akan berakhir, tetapi takutilah bahwa ia tidak akan bermula.”
-John Henry Newman-

Selamatkan Masa Depan Indonesia Dengan Sains dan Teknologi

Oleh: Budi Rahardjo

Teknologi sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Kita ambil contoh teknologi telekomunikasi dan informasi
. Radio, televisi, VCD, DVD, komputer – sebagai produk dari teknologi – ada dimana-mana. Paling tidak di kota besar kita lihat banyak orang menggunakan telepon seluler (handphone). Orang yang tadinya tidak gemar menulis surat, sekarang menulis e-mail melalui Internet atau mengirim SMS melalui handphonenya setiap hari. Ini contoh teknologi yang ubiquitous, yaitu teknologi yang sudah merasuk dan “tidak nampak” (tidak terlihat sebagai sebuah benda yang aneh).
Namun sayangnya, kebanyakan dari semua ini adalah kita hanya sebagai pengguna atau konsumer dari teknologi itu sendiri. Kita bukan lagi sebagai produser, pembuat, atau inovator dalam teknologi dan aplikasinya. Padahal, dahulu kita dianggap sebagai salah satu pionir dalam telekomunikasi dengan digunakannya satelit Palapa. Indonesia sebagai negara ketiga yang memiliki satelit telekomunikasi. Saat ini dengan semakin banyaknya jumlah pengguna telepon seluler (dan akan terus bertambah), seharusnya kita tetap menjadi pelopor. Kenyataannya kita hanya sebagai konsumer belaka dengan mengimpor teknologi telekomunikasi dari luar negeri. Ini tantangan bagi generasi muda Indonesia. Dapatkah kita mengubah kondisi ini menjadi kesempatan (opportunity)?
“Kekayaan” sekarang tidak lagi hanya diukur dari kepemilikan hal-hal yang tangible – seperti uang, tanah, mobil, dan hal-hal lain yang langsung terlihat secara fisik – akan tetapi sudah mengikutsertakan hal-hal yang intangible. Kalau dahulu kekayaan sebuah perusahaan dihitung dari jumlah tanah atau kendaraan yang dimilikinya, saat ini yang ditanyakan adalah jumlah sumber daya manusianya beserta kualifikasinya (berapa jumlah S1 nya? S2? S3?) serta kepemilikan hak intelektual lainnya (berapa paten, hak cipta, merek dagang, dan rahasia dagang yang dimiliki?). Namun sayangnya, lagi-lagi, Indonesia tertinggal di bidang ini.
Penguasaan sains dan teknologi diharapkan dapat menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup kita, yaitu dengan menjadikannya sebagai “engines of prosperity”. Penguasaan ini dijabarkan dalam bentuk kepemilikan “knowledge” atau pengetahuan. Itulah sebabnya saat ini muncul istilah-istilah seperti knowledge management, dan knowledge-based economy (ekonomi yang berbasis pengetahuan). Pertempuran antar negara – baik dalam bidang perdagangan maupun bidang militer – sudah sarat dengan teknologi. Tanpa menguasai sains dan teknologi, kita akan ketinggalan lagi.

Chong-Moon Lee, salah seorang pengamat teknologi dan ekonomi mengatakan bahwa ada tiga (3) cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi:
1. meningkatkan dan memperkuat faktor input dari tenaga kerja (labor) dan capital;
2. melalui perdagangan dan keuntungan komparatif (misalnya melalui spesialisasi);
3. melalui inovasi dan entrepreneurship.
Mari kita fokuskan kepada faktor yang terakhir, yaitu bagaimana kita mengembangkan inovasi dan entrepreneurship. Untuk sementara ini lupakan dahulu entrepreneurship karena itu merupakan pokok bahasan tersendiri. Inovasi muncul dari riset. Inilah mengapa masa depan Indonesia ditentukan oleh sains dan teknologi.
Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu institusi pendidikan dan penelitian di Indonesia diharapkan menjadi motor (flag carrier) dalam penguasaan sains dan penghasil teknologi. Siapkah ITB?
Permasalahan Riset
Pengelolaan riset memiliki berbagai permasalahan yang tidak saja dialami oleh Indonesia tetapi juga oleh negara-negara yang sudah maju. Berikut ini ada beberapa contoh permasalahan tersebut.
Keterbatasan pendanaan (funding) merupakan salah satu masalah terbesar. Dana yang terbatas memaksa adanya prioritas atau fokus terhadap satu atau beberapa bidang penelitian saja. Industri di negara maju pun mulai kesulitan dalam mengalokasikan dana untuk penelitian. Akibatnya prioritas penelitian juga mulai diarahkan kepada penelitian yang aplikatif, yang dapat menghasilkan keuntungan finansial dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Kondisi sebelumnya menunjukkan bahwa penelitian yang ada lebih bernuansa teoritis (dan bahkan hanya untuk mengejar kenaikan pangkat saja). Ini tidak terjadi di Indonesia saja, melainkan sebuah fenomena global. Dalam sebuah tulisan di IEEE Spectrum ditunjukkan bahwa artikel-artikel di IEEE Transactions (yaitu jurnal utama organisasi IEEE) saat ini hanya 15% yang berasal dari industri. Padahal di tahun 1970-an, 70% makalah berasal dari industri (contohnya adalah IBM, Bell Labs).
Arah penelitian bisa mengikuti beberapa pola:

· Mengikuti tuntutan pasar. Pendekatan yang market driven ini memiliki keuntungan bahwa penelitian tidak akan sia-sia karena ada calon pengguna (pembeli). Pendekatan ini menuntut perencanaan (road mapping) jangka pendek dan jangka panjang. Buruknya pendekatan ini adalah belum tentu kita yang mendapat keuntungan finansial karena bisa saja kita terlambat (atau juga terlalu cepat) masuk ke pasar sehingga pasar sudah dikuasai oleh pihak lain. Memprediksi pasar juga bukan pekerjaan yang mudah sehingga bisa saja salah sasaran. Selain itu SDM yang dibutuhkan dan dana pada tahap awal belum tentu tersedia.
· Mengikuti ketersediaan sumber daya manusia. Pendekatan yang melihat ke dalam adalah pendekatan ini yang paling sering dilakukan karena kemampuan SDM – dan mungkin juga fasilitas penelitian – sudah tersedia. Namun pendekatan ini memiliki kelemahan bahwa dia berorientasi ke dalam dengan topik penelitian yang belum tentu memiliki nilai komersial atau strategis. Seringkali topik penelitian dipilih sesuai dengan selera peneliti itu sendiri, dan juga sering berubah-ubah.
· Mengikuti penyedia dana. Pendekatan ini “mengikuti arus” ketersediaan dana. Jika ada dana untuk topik penelitian xyz, maka ramai-ramai peneliti mengajukan proposal sesuai dengan syarat yang diajukan oleh pemberi dana. Kompetensi dan track record dari peneliti diabaikan. Pendekatan ini terlalu short term dan hanya cocok untuk kondisi survival atau untuk melakukan bootstrap saja. Namun seringkali para peneliti ini lupa dan terus menerus mengambil pendekatan ini, yaitu pendekatan proyek. Akibatnya topik penelitian menjadi meloncat-loncat dan tidak memiliki dasar (foundation) yang kokoh.
· Mengikuti kepentingan negara atau kebutuhan masyarakat. Ini pendekatan ideal dimana memang hasil penelitian tersebut sangat dinantikan oleh masyarakat. Pendekatan ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan membutuhkan road map jangka panjang. Hasil-hasil sementara yang dapat langsung dimanfaatkan merupakan milestones dari rencana jangka panjang tersebut. Masalah utama dalam pendekatan ini adalah biasanya kurang ada nilai bisnisnya sehingga industri tidak mau melakukan investasi. Sementara itu pemerintah tidak memiliki dana yang cukup atau bahkan tidak memiliki komitmen sehingga arah penelitian hanya sekedar ”manis di bibir” (lip service). Di sisi perguruan tinggi atau institusi penelitian sendiri belum tentu ada sumber daya manusia dan fasilitas yang mendukung.

Tentu saja pola yang diambil oleh sebuah institusi bisa merupakan gabungan atau kombinasi dari pola-pola di atas.
Visi dari penelitian – dari pemerintahan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian – seringkali tidak jelas atau bahkan tidak ada. Ini membutuhkan kepemimpinan (leadersip). Ketika John F. Kennedy mengatakan di Rice University bahwa Amerika akan pergi ke bulan dunia berguncang. Banyak orang yang mengatakan bahwa itu hanya mimpi. Sampai saat ini pun masih ada orang yang meragukan kesuksesan misi Apollo dan mengatakan bahwa itu hanya tipuan (hoax) belaka. Namun perkataan Kennedy tersebut mengusik jiwa beberapa orang peneliti sehingga memiliki obsesi dan komitmen untuk mewujudkan impian ini. Hasilnya dapat kita lihat sendiri. Mereka maju dengan pesat. Negara lain pun melakukan pendekatan yang sama. Bagaimana dengan Indonesia?
Paragraf di atas menyinggung tentang peneliti yang terobsesi dan memiliki komitmen untuk meneliti terus yang jarang ditemukan di Indonesia. Karakter ini yang nampaknya kurang tumbuh di Indonesia. Apakah ini bawaan sifat orang Indonesia? Tidak! Orang Indonesia sendiri sebetulnya memiliki kemampuan meneliti yang cukup baik. Buktinya mahasiswa Indonesia yang sedang belajar atau berkarya di perguruan tinggi di luar negeri dapat menjadi peneliti-peneliti yang baik. Jadi bukan manusianya, melainkan lingkungan (environment) Indonesia yang kurang mendukung penelitian. Ini yang harus kita ubah. Kita budayakan sifat meneliti.
Di ITB penelitian dapat dibagi menjadi dua, yaitu penelitian yang bersifat teoritis dan penelitian yang lebih bersifat aplikatif. Penelitian yang bersifat teoritis dimotori oleh Fakultas, Departemen, dan lab-lab yang berada di dalamnya. Sementara itu, penelitian yang bersifat aplikatif dimotori oleh LPPM (Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat) beserta Kelompok Penelitian dan Pengembangan (KPP) yang berada di dalamnya. Diharapkan sinergi dari dua motor ini dapat menghasilkan penelitian dan pengembangan yang bermanfaat bagi Indonesia.
Tantangan Ke Depan
Banyak bidang “baru” yang diperkirakan akan menjadi primadona dalam menghasilkan prosperity, yaitu antara lain Bioteknologi, dan Nanoteknologi. Nah, siapkah kita menjadi salah satu pionir di bidang itu dengan inovasi-inovasi yang dapat menyelamatkan Indonesia? Akan adakah peneliti-peneliti tangguh dari Indonesia?